Langsung ke konten utama

BAHAGIA MENJADI PERANTARA

21 - 05 - 2021

Bahagia Menjadi Perantara


Dear, Pembaca Yang Budiman.

Siang hari ini tepat pada pukul 13:30 waktu Indonesia bagian barat saya mendapat kabar baik dari istri klien yang bernama Ibu Satijo. Ibu Satijo menyampaikan terimakasih sebanyak-banyaknya. Bahkan Ibu Satijo mengucapkan terimakasih tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Kalau saja di hitung, barangkali Ibu Satijo mengucapkan terimakasih yang di tunjukkan pada saya jumlahnya sebanyak sembilan belas kali. Ungkap Ibu Satijo, "Terimakasih ya Mas Fajar, berkat perantara Mas Fajar Bapak bisa pulih kembali." Sore harinya, anak-anak serta cucu Ibu Satijo mengucapkan terimakasih yang tak terhingga. Awalnya tak terbiasa mendapat bertubi-tubi ucapan terimakasih yang penuh syukur dari keluarga Bani Satijo. Tetapi melihat ekpresi yang terpancar dari bola mata Ibu Satijo sekeluarga, rasanya mereka betul-betul bahagia penuh haru, mereka sangat bersyukur begitu melihat Bapak Satijo bisa berjalan juga bernapas dengan baik kembali dan bisa turut serta melaksanakan sholat Jum’at di Masjid secara berjama’ah setelah sekian lamanya. Saya ikut berterima kasih pada diri sendiri. Apa yang telah saya dalami dan apa yang sudah saya pahami sejauh ini ternyata tak ada yang sia-sia. Apa yang telah menjadi minat saya ternyata memiliki unsur manfaat bagi sebagian manusia.

Dalam menerapi Bapak Satijo yang mengidap asma, jantung, paru-paru, asam urat, dan syaraf kejepit pertama-tama saya tidak percaya diri dengan kemampuan yang telah saya kuasai. Karena itu sebelum menerapi, saya meriset tentang penyakit yang di derita oleh Bapak Satijo dan mengatur strategi untuk menerapkan pendekatan yang bagaimana? Supaya klien yang unik ini nyaman dan kepercayaan diri saya kembali utuh. 

Pertemuan perdana untuk menerapi Bapak Satijo setelah sesi konsultasi selesai, mulanya hanya memfasilitasi untuk latihan pernapasannya saja. Namun, beberapaka kali pertemuan saya berinisiatif memberikan beberapa varian latihan yang dapat dipakai sebagai alternative. Supaya klien yang umurnya sudah lebih dari setengah abad ini tidak timbul rasa bosan dengan cara latihan tarik napas dari hidung dan menghembuskannya dari mulut. Sesekali saya terapkan guided meditation, tujuannya adalah untuk mempersiapkan kenyamanan fisik (kesehatan), kebersihan lapisan energi, kejernihan dan kestabilan mental-emosional, mengakses lapisan intelegensia dan spiritual. Supaya menyelaraskan antara pikiran, ucapan serta tindakan. 

Ajaibnya, dengan terapi yang saya suguhkan khusus untuk klien satu ini mendapat hasil yang baik. Ia sudah berani berjalan tanpa alat bantu jalan lansia walker deluxe onemed tanpa roda. Sebab ini istri Bapak Satijo, anak-anak serta cucunya bahagia melihat Bapak Satijo dapat kembali berjalan dan bernapas tidak tertalah-talah.

Berada dalam euphoria rasa bahagia bani Satijo, saya sebagai perantara rasa bahagia itu pun ikut bungah. Bahkan boleh di labelkan bungah seolah-olah melihat kakek sendiri yang sudah lama sakit bisa bangkit dari rasa sakitnya. Saya mengaku sangat senang menjalani profesi sebagai terapis. Karena keahlian dari ilmu yang saya kuasai bisa menjadi perantara Tuhan menyembuhkan seseorang. Walapun sebelumnya saya tidak pernah memimpikan menjadi seorang terapis. 

Kurang lebih tiga tahun saya menjalani profesi sebagai terapis, saya mengaku banyak sekali pengalaman berharga yang diperoleh. Kesembuhan klien merupakan kebahagian bagi saya, kesembuhan klien merupakan hal yang membuat saya sangat mencintai profesi yang sedang dijalani saat ini. Kesembuhan Bapak Satijo benar-benar menjadi kebahagiaan luar biasa bagi saya pribadi dan juga keluarganya. 

Sesuatu yang mahal yang tidak bisa digantikan dengan angka melihat klien mendapat kemajuan dalam kesehatannya. Hal ini tentu sangat menyenangkan. Bukan begitu? Apakah pembaca yang budiman sudah mulai tertarik untuk berada dalam oase euphoria bahagia menjadi perantara? Mari berproses dan bergerak bersama.


Salam Hangat,

Nuzulul Fajar

Komentar

  1. Mau dong, disembuhin. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa yang mau disembuhin, Pak Said? Isi dompet? 😋

      Hapus
  2. Nice experience. Apa yang ditanam perlahan-lahan mulai dituai. Good job and stay foolish 🤘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah thankyou, Mbak. Jadi dapat ide nulis jurnal tentang menuai apa yang di tabur. 😁

      Hapus
  3. Ternyata bahagia itu tak melulu tujuan, melainkan perantara. Terima kasih sudah menulis ini 😎

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Kak. Terimakasih sudah membaca dan meluangkan waktu menaggalkan jejak. 😊

      Hapus
  4. Waah insightful setelah membaca ini, bahagia yang mahal 😎

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikut masuk dalam oase euphoria bahagia kan, CS? Hihi

      Hapus
  5. Insighful banget! Tapi ada beberapa masukan nih, penggunaan kata "di" yang dimaksudkan kata kerja harusnya disambung. Overall, udah keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thankyou, Pak. Masukan yang sangat membangun. ☺

      Hapus
  6. Tulisan ini juga jadi perantara lho :D
    Gak terasa ya, ternyata udah 3 tahun aja jadi terapis. Semoga akan lebih banyak lagi keluarga "Bani Satijo" lainnya yang bisa terbantu oleh Fajar. Sukses selalu, Fajar! :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terimakasih, Teteh. Moga-moga selalu sehat dan dapat manfaat. :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

QUESTIO - BAB 1

  BAB 1 – AWAL SEMUA DIMULAI “Karena setiap kedekatan dimulai dari satu pertanyaan kecil yang tulus.” Quaestio Prima "Semua orang bodoh bisa memberi jawaban. Tapi hanya orang bijak yang tahu bagaimana bertanya." — James Thurber Dulu, saat kecil, kamu mungkin pernah bertanya, “Kenapa langit warnanya biru?” Dan entah kenapa, saat dewasa, kamu berhenti bertanya. Buku ini ingin mengembalikan rasa ingin tahu itu. Bukan untuk dapat jawaban, tapi untuk membuka pintu obrolan yang selama ini tertutup rapat. Salam dari MARMUT, Mas fajAR iMUT. Quaestio: Kalau kamu bisa nanya apa saja ke siapa pun, hidup atau sudah tiada, kamu akan bertanya apa… dan kepada siapa? Pertanyaan apa yang paling sering kamu simpan, tapi sebenarnya ingin kamu tanyakan? Kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar didengar? Pertanyaan Bisa Jadi Pelukan Pertanyaan itu seperti pelukan: kadang nggak perlu jawaban. Yang penting kita tahu, kita nggak sendirian. Quaestio: Kalau ada seseo...

Kesurupan Setan?

 CERITA: Obrolan di Warung Kopi yang Bikin Ustadz Nyerah Di sebuah warung kopi dekat kampus,  ada obrolan panas antara tiga orang:  - Aab, mahasiswa psikologi  - Ustadz Miqdam, dai muda yang aktif di kajian  - Pak Juki, tukang ojek yang suka baca Al-Qur’an sambil nunggu penumpang  Topiknya:  "Setan dan kesurupan itu nyata nggak sih?" Ustadz Miqdam langsung angkat suara: “Jelas nyata! Setan itu makhluk halus, diciptakan dari api, suka goda manusia, masuk ke tubuh lewat telinga, dan bikin orang kesurupan, teriak-teriak, sampai harus dipanggilkan guru spiritual!” Aab nyeruput kopi, lalu senyum: “Kalau setan bisa masuk lewat telinga… berarti dia kena otitis eksterna, Pak Ustadz.”  Semua tertawa.  Termasuk Ustadz Miqdam.  Tapi dia balik: “Kamu mau bantah dalil dengan canda?”  Aab santai: “Nggak, Pak. Saya mau bantah kebingungan dengan fakta.  Boleh saya tanya:  Kalau setan itu nyata, kenapa nggak pernah muncul di rekaman MRI? K...

QUESTIO - BAB 2

Bab 2: Jiwa yang Mencari “Semua manusia dilahirkan untuk bertanya. Yang membedakan bukan siapa yang tahu lebih banyak, tapi siapa yang berani terus mencari.” — Questio Pintu Pertama Kesadaran Quaestio I: Mengapa Kita Bertanya? Mengapa manusia selalu ingin tahu? Apakah Tuhan itu ada? Jika ya, bagaimana kita bisa membuktikannya? Apa peran agama dalam kehidupan manusia? Apa yang lebih penting: pengetahuan atau kebijaksanaan? Apakah ilmu pengetahuan mampu menjawab semua pertanyaan tentang alam semesta? Bagaimana kita bisa membedakan antara fakta dan opini? Apakah kebenaran itu bersifat absolut atau relatif? Apakah kita benar-benar bebas dalam menentukan pilihan hidup kita? Refleksi: Rasa ingin tahu adalah percikan ilahi yang ditiupkan ke dalam jiwa manusia. Ia seperti api kecil yang tidak akan padam, bahkan di tengah badai. Ia yang bertanya, belum tentu tahu. Tapi ia yang berhenti bertanya, pasti berhenti bertumbuh. Kesadaran Kolektif dan Dunia Dalam Quaestio II: Siapakah Kita...