Langsung ke konten utama

3 LANGKAH MENJADI FIGUR OTORITAS DI ORGANISASI ANDA

3 Langkah Menjadi Figur Otoritas di Organisasi Anda


Sebagai pimpinan di organisasi, sudah sepantasnya jika segala instruksi Anda dipatuhi oleh seluruh anggota agar roda operasional organisasi dapat berjalan dengan baik dan organisasi dapat berkembang dengan maksimal. Ada dua pendekatan dalam melihat dan menilai perilaku rekan kolega di organisasi. Pandangan pertama menyatakan bahwa rekan sesungguhnya punya sifat yang baik, hanya kadang karena adanya godaan atau situasi yang tidak menguntungkan akhirnya membuat pelanggaran. Kedua, yakni rekan Anda memang pada dasarnya punya potensi untuk melakukan pelanggaran, sehingga pimpinan harus selalu melakukan kontrol. Sebenarnya dua pandangan ini sama-sama benar, kita tidak bisa terlalu percaya kepada rekan, pun juga tidak bisa terlalu mengontrol.

Solusinya adalah menjadi seorang figur otoritas. Figur otoritas adalah siapapun yang perkataannya selalu didengar. Dimana perkataan tersebut dapat membuat pendengar menjalani hidup yang berbeda sama sekali. Sebagai contoh, kita ditanya oleh teman kita, dimana restoran paling enak di kota kita? Lalu kita tunjuk satu restoran. Ternyata benar, teman kita merasa makanan di restoran tersebut memang enak. Kita sudah menjadi figur otoritas di mata teman kita. Lain kali jika teman kita mencari tempat makan yang enak lagi, pasti kita yang ada di top of mind mereka.

Maka saat di organisasi, salah satu cara agar karyawan loyal dengan kita dan selalu dengan senang hati melaksanakan instruksi dari kita adalah dengan cara menjadi figur otoritas. Ada tiga langkah mudah yang bisa Anda lakukan untuk menjadi seorang figur otoritas bagi rekan Anda. Prinsipnya adalah membangun trust kepada rekan seorganisasi Anda. Jadi setelah Anda lakukan ketiga langkah ini, jangan sampai Anda melakukan yang berkebalikan dengan langkah-langkah yang telah Anda lakukan. 3 langkah tersebut dimulai dari:

• Tahu secara pasti motivasi terbesar dalam hidup mereka

Pastinya sebagai pimpinan, Anda adalah orang yang paling sering bersama rekan Anda di organisasi. Luangkan waktu untuk ‘curi-curi’ database pribadi mereka seperti hobi mereka, jumlah anggota keluarga, latar belakang pendidikan, pandangan politik, apa yang jadi motivasi terbesar dalam hidup mereka, cita-cita, dan tokoh yang jadi panutan mereka. Sepertinya ribet sekali ya? Namun memang ada harga yang harus dibayar untuk ‘membeli’ kepercayaan orang dan itu bukanlah harga yang murah. Untuk mempermudah Anda melakukan langkah kepo-kepo ini, ikuti saja update-update yang mereka lakukan di media sosial.

Rata-rata pengguna media sosial selalu melakukan posting konten-konten yang mereka sukai atau yang bagi mereka bermanfaat. Amati apa yang sering mereka bagikan di media sosial. Jika mereka sering berbagi foto dengan teman-teman, maka rekan ini tipe orang yang menganggap bahwa relationship lah yang paling penting dalam hidup ini. Jika mereka lebih sering membagikan konten-konten keilmuan atau tips & trick, artinya rekan ini adalah tipe orang yang selalu ingin hal-hal yang lebih baik atau selalu mengejar peningkatan dalam hidupnya. So, ketika Anda sudah tahu apa motivasi terbesar dalam hidup mereka, Anda bisa lakukan langkah selanjutnya

• Ciptakan rasa aman saat berbicara dengan Anda

Mungkin dari pencarian fakta di atas, ada beberapa fakta dari rekan yang tidak kita sukai. Itu wajar mengingat manusia selalu punya kelebihan dan kekurangan. Hal yang perlu Anda lakukan hanyalah memaklumi dan menyimpannya dalam memori sebagai antisipasi. Ingat, jangan pernah mengkritisi fakta buruk dari rekan kita secara terbuka, karena hal tersebut hanya akan membuat mereka bersifat defensif dan jadi lebih tertutup kepada Anda. Sebaliknya, Anda bisa menanyakan saja pendapat mereka terhadap berbagai fakta yang Anda temukan tentang diri mereka, sehingga Anda tahu mengapa mereka bersikap atau berpikir demikian.

Contoh, Anda tidak suka rekan Anda merokok, alih-alih mengkritisi kebiasaan merokok ini, tanyakan alasan mereka merokok. Apa latar belakangnya? Dimulai sejak kapan kebiasaan ini? Siapa pencetusnya? Dan bagaimana tanggapan orang-orang di sekitar mereka terhadap kebiasaan ini. Sehingga pertanyaan-pertanyaan ini tanpa sadar membuat rekan Anda jadi bercerita banyak terhadap diri mereka sehingga terbangun rasa aman saat berbicara dengan Anda. Anda pun juga harus mengimbangi cerita mereka dengan cerita Anda. Jangan sampai Anda mengharapkan rekan Anda terbuka pada Anda, tapi Anda tidak terbuka pada mereka.

Sama seperti dalam social media marketing, rumus yang bisa Anda gunakan dalam melakukan langkah ini adalah 3:1. Tiga pertanyaan tentang diri rekan Anda, dan satu pernyataan tentang diri Anda. Untuk teknik membangun percakapan ke tingkat yang lebih dalam, ada pada artikel dengan judul Building Customer Relationship To The Next Level. Intinya adalah membangun rasa aman bertujuan agar rekan jadi lebih terbuka terhadap Anda sehingga ide-ide, kritik-kritik, bahkan celah terjadinya kecurangan dalam organisasi bisa mereka sampaikan kepada Anda, tanpa adanya resiko penolakan. Bukan berarti bahwa Anda harus menerima setiap masukan dari rekan Anda, namun lebih kepada menguji bersama-sama masukan tersebut apakah benar berguna bagi organisasi atau tidak. Lakukan pengujian dalam skala kecil terlebih dahulu, untuk kemudian dijadikan satu kebijakan. Jika ternyata hasil pengujian Anda dan rekan Anda gagal, jangan menyalahkan rekan Anda atau menyatakan bahwa ide mereka salah, namun terlibatlah dengan diskusi dua arah, mengapa ide mereka belum dapat diterapkan dan langkah-langkah apa yang dilakukan agar ide tersebut dapat dijalankan.

• Membantu mereka mencapai prestasi terbaik di organisasi

Pandangan yang menyatakan bahwa kita harus mempekerjakan rekan semaksimal mungkin dengan kompensasi serendah mungkin sudah tidak sesuai lagi di era disrupsi ini. Rekan yang tidak puas dengan kinerjanya sendiri memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk keluar daripada rekan yang puas dengan kinerjanya. Untuk itu, selalu pantau perkembangan mereka dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka baik tugas-tugas yang sudah jadi rutinitas atau tugas-tugas yang bagi mereka adalah hal yang baru. Panduan cara memantau kinerja rekan dapat Anda baca pada Book Review : Leadership and The One Minute.

Layaknya anak sekolah, yang jadi tolak ukur prestasi mereka adalah nilai rapor yang mana ada beberapa komponen yakni ujian akhir, ujian tengah semester, ujian praktek dan sebagainya. Dalam dunia kerja kita mengenal istilah target, capaian, KPI, dan indeks prestasi – indeks prestasi lainnya. Sering-seringlah ajak rekan Anda untuk berdiskusi terkait poin-poin dalam KPI mereka atau target-target mereka sehingga Anda tahu permasalahan dan level komitmen rekan Anda dalam mencapai target.

Beri tips hanya jika Anda diminta, lebih banyaklah gali ide dari rekan Anda. Ingat, rasio 3:1. Tiga kali Anda dengarkan ide dari rekan Anda dan satu kali Anda berikan ide Anda. Itu pun jika diminta. Kemudian ketika mereka pada akhirnya berhasil membuat pencapaian sesuai target, jangan lupa puji mereka atas kerja keras yang mereka lakukan. Jangan memuji karakter mereka. Alih-alih Anda berkata, “wah kamu pintar ya, bisa mengerjakan tugas ini dengan baik.” Pujilah kerja keras mereka, “Good job! Ngga percuma ya kamu kemarin mengonsep sampai lembur-lembur. Akhirnya terbayar lunas semuanya.”

Demikian tips menjadi figur otoritas di organisasi Anda. Jika ingin berdiskusi lebih lanjut tentang penerapannya, silakan follow & hubungi instagram @nuzulul.fajar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QUESTIO - BAB 1

  BAB 1 – AWAL SEMUA DIMULAI “Karena setiap kedekatan dimulai dari satu pertanyaan kecil yang tulus.” Quaestio Prima "Semua orang bodoh bisa memberi jawaban. Tapi hanya orang bijak yang tahu bagaimana bertanya." — James Thurber Dulu, saat kecil, kamu mungkin pernah bertanya, “Kenapa langit warnanya biru?” Dan entah kenapa, saat dewasa, kamu berhenti bertanya. Buku ini ingin mengembalikan rasa ingin tahu itu. Bukan untuk dapat jawaban, tapi untuk membuka pintu obrolan yang selama ini tertutup rapat. Salam dari MARMUT, Mas fajAR iMUT. Quaestio: Kalau kamu bisa nanya apa saja ke siapa pun, hidup atau sudah tiada, kamu akan bertanya apa… dan kepada siapa? Pertanyaan apa yang paling sering kamu simpan, tapi sebenarnya ingin kamu tanyakan? Kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar didengar? Pertanyaan Bisa Jadi Pelukan Pertanyaan itu seperti pelukan: kadang nggak perlu jawaban. Yang penting kita tahu, kita nggak sendirian. Quaestio: Kalau ada seseo...

Kesurupan Setan?

 CERITA: Obrolan di Warung Kopi yang Bikin Ustadz Nyerah Di sebuah warung kopi dekat kampus,  ada obrolan panas antara tiga orang:  - Aab, mahasiswa psikologi  - Ustadz Miqdam, dai muda yang aktif di kajian  - Pak Juki, tukang ojek yang suka baca Al-Qur’an sambil nunggu penumpang  Topiknya:  "Setan dan kesurupan itu nyata nggak sih?" Ustadz Miqdam langsung angkat suara: “Jelas nyata! Setan itu makhluk halus, diciptakan dari api, suka goda manusia, masuk ke tubuh lewat telinga, dan bikin orang kesurupan, teriak-teriak, sampai harus dipanggilkan guru spiritual!” Aab nyeruput kopi, lalu senyum: “Kalau setan bisa masuk lewat telinga… berarti dia kena otitis eksterna, Pak Ustadz.”  Semua tertawa.  Termasuk Ustadz Miqdam.  Tapi dia balik: “Kamu mau bantah dalil dengan canda?”  Aab santai: “Nggak, Pak. Saya mau bantah kebingungan dengan fakta.  Boleh saya tanya:  Kalau setan itu nyata, kenapa nggak pernah muncul di rekaman MRI? K...

QUESTIO - BAB 2

Bab 2: Jiwa yang Mencari “Semua manusia dilahirkan untuk bertanya. Yang membedakan bukan siapa yang tahu lebih banyak, tapi siapa yang berani terus mencari.” — Questio Pintu Pertama Kesadaran Quaestio I: Mengapa Kita Bertanya? Mengapa manusia selalu ingin tahu? Apakah Tuhan itu ada? Jika ya, bagaimana kita bisa membuktikannya? Apa peran agama dalam kehidupan manusia? Apa yang lebih penting: pengetahuan atau kebijaksanaan? Apakah ilmu pengetahuan mampu menjawab semua pertanyaan tentang alam semesta? Bagaimana kita bisa membedakan antara fakta dan opini? Apakah kebenaran itu bersifat absolut atau relatif? Apakah kita benar-benar bebas dalam menentukan pilihan hidup kita? Refleksi: Rasa ingin tahu adalah percikan ilahi yang ditiupkan ke dalam jiwa manusia. Ia seperti api kecil yang tidak akan padam, bahkan di tengah badai. Ia yang bertanya, belum tentu tahu. Tapi ia yang berhenti bertanya, pasti berhenti bertumbuh. Kesadaran Kolektif dan Dunia Dalam Quaestio II: Siapakah Kita...