Langsung ke konten utama

Ayah

DUA TIANG PENOPANG & SENTUHAN TANPA SUARA

"Ing Ngarsa Sung Tuladha."*
 — Ki Hajar

Jaket, Jas, dan Kasih Tanpa Suara dari Ayah

Jika Ibu memberikan warisan nasihat bijak yang bergema di telinga, maka ada satu sosok lagi yang membentuk cara saya menghargai panggung dan penampilan. Sosok yang jarang banyak bicara, namun perhatiannya pada hal-hal detail begitu mendalam. Ayah

Ayah saya adalah pria yang mengagumi dan memperhatikan perjalanan saya dengan caranya sendiri—diam-diam, tanpa banyak suara atau wejangan panjang lebar.

Saya teringat pertama kali memiliki sebuah jaket tebal. Bukan saya yang membelinya, melainkan Ayah. Waktu berlalu, dan ternyata jaket tebal pemberian Ayah itu menjadi penyelamat utama ketika saya harus mengisi acara di wilayah dataran tinggi dengan udara yang menusuk tulang. Di tengah dinginnya angin pegunungan, jaket itu tidak hanya menghangatkan tubuh saya, tapi juga memberi rasa tenang bahwa ada doa dan perhatian Ayah yang memeluk saya di atas panggung.

Begitu pula saat karier lelaki panggilanku terus bertumbuh. Ayah pernah membelikan saya sebuah Jas bermerek. Jas itu bukan sekadar pakaian formal biasa bagi saya; itu adalah lambang kepercayaan seorang ayah kepada anaknya. Jas itulah yang saya kenakan dengan penuh rasa bangga dan percaya diri saat berdiri sebagai Dosen Tamu untuk Program Magister di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta, serta saat memimpin kelas-kelas pelatihan profesional in-house training di berbagai instansi.

Bahkan untuk urusan santai, saat ada kesempatan turun dari kapal di luar negeri, yang diingat Ayah tetaplah penampilan anaknya. Beliau membawa pulang kaos-kaos berkualitas yang kemudian menjadi "seragam keberuntungan" saya saat melangsungkan diskusi dan kesepakatan (dealing) bisnis di luar panggung resmi.

Ayah mengajarkan saya satu hal besar tanpa perlu banyak kata: Bahwa dukungan terbaik tidak selalu diucapkan, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata untuk memastikan kita siap menghadapi dunia.

Dan Hari ini Ayah saya sudah berusia ke-54.

Selamat Ulang Tahun, Ayah. 
Happy Birthday Our Beloved Father.

Ya, ke-54 karena Ayah saya lahir pada tahun 1972, tahun depan Ayah saya melangkah memasuki usia yang ke-55. Lebih dari setengah abad jejak langkah yang telah beliau tapaki, dan belasan tahun di antaranya dihabiskan untuk memastikan langkah anaknya tidak goyah saat melangkah di atas panggung kehidupan.

Setiap lembar pakaian yang beliau belikan, setiap jaket yang menghangatkan, dan setiap jas yang membalut tubuh ini adalah bukti betapa beruntungnya saya tumbuh di bawah naungan teladannya. Memiliki Ayah sebagai kompas kehidupan adalah salah satu anugerah paling indah yang pernah semesta hadirkan.

Di usia yang ke-54 ini, doa dan harapan terbaik tercurah sepenuhnya untuk Ayah:

Semoga napas dan raganya senantiasa dilimpahi kesehatan yang paripurna, kedamaian pikiran, dan ketenangan jiwa.
Semoga setiap peluh, langkah, dan kasih tanpa suara yang telah beliau curahkan berbuah kebaikan berlipat ganda, kebahagiaan yang tak pernah putus, serta keberkahan yang mengalir di setiap usianya.

Setiap kali saya berdiri tegak di atas panggung dan memegang mikrofon di hadapan ribuan orang, senyuman dan teladan Ayah-lah yang selalu melekat di balik dada ini.

Matur Sembah Nuwun. 
We Love You More ❤

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QUESTIO - BAB 2

Bab 2: Jiwa yang Mencari “Semua manusia dilahirkan untuk bertanya. Yang membedakan bukan siapa yang tahu lebih banyak, tapi siapa yang berani terus mencari.” — Questio Pintu Pertama Kesadaran Quaestio I: Mengapa Kita Bertanya? Mengapa manusia selalu ingin tahu? Apakah Tuhan itu ada? Jika ya, bagaimana kita bisa membuktikannya? Apa peran agama dalam kehidupan manusia? Apa yang lebih penting: pengetahuan atau kebijaksanaan? Apakah ilmu pengetahuan mampu menjawab semua pertanyaan tentang alam semesta? Bagaimana kita bisa membedakan antara fakta dan opini? Apakah kebenaran itu bersifat absolut atau relatif? Apakah kita benar-benar bebas dalam menentukan pilihan hidup kita? Refleksi: Rasa ingin tahu adalah percikan ilahi yang ditiupkan ke dalam jiwa manusia. Ia seperti api kecil yang tidak akan padam, bahkan di tengah badai. Ia yang bertanya, belum tentu tahu. Tapi ia yang berhenti bertanya, pasti berhenti bertumbuh. Kesadaran Kolektif dan Dunia Dalam Quaestio II: Siapakah Kita...

QUESTIO - BAB 1

  BAB 1 – AWAL SEMUA DIMULAI “Karena setiap kedekatan dimulai dari satu pertanyaan kecil yang tulus.” Quaestio Prima "Semua orang bodoh bisa memberi jawaban. Tapi hanya orang bijak yang tahu bagaimana bertanya." — James Thurber Dulu, saat kecil, kamu mungkin pernah bertanya, “Kenapa langit warnanya biru?” Dan entah kenapa, saat dewasa, kamu berhenti bertanya. Buku ini ingin mengembalikan rasa ingin tahu itu. Bukan untuk dapat jawaban, tapi untuk membuka pintu obrolan yang selama ini tertutup rapat. Salam dari MARMUT, Mas fajAR iMUT. Quaestio: Kalau kamu bisa nanya apa saja ke siapa pun, hidup atau sudah tiada, kamu akan bertanya apa… dan kepada siapa? Pertanyaan apa yang paling sering kamu simpan, tapi sebenarnya ingin kamu tanyakan? Kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar didengar? Pertanyaan Bisa Jadi Pelukan Pertanyaan itu seperti pelukan: kadang nggak perlu jawaban. Yang penting kita tahu, kita nggak sendirian. Quaestio: Kalau ada seseo...

Kesurupan Setan?

 CERITA: Obrolan di Warung Kopi yang Bikin Ustadz Nyerah Di sebuah warung kopi dekat kampus,  ada obrolan panas antara tiga orang:  - Aab, mahasiswa psikologi  - Ustadz Miqdam, dai muda yang aktif di kajian  - Pak Juki, tukang ojek yang suka baca Al-Qur’an sambil nunggu penumpang  Topiknya:  "Setan dan kesurupan itu nyata nggak sih?" Ustadz Miqdam langsung angkat suara: “Jelas nyata! Setan itu makhluk halus, diciptakan dari api, suka goda manusia, masuk ke tubuh lewat telinga, dan bikin orang kesurupan, teriak-teriak, sampai harus dipanggilkan guru spiritual!” Aab nyeruput kopi, lalu senyum: “Kalau setan bisa masuk lewat telinga… berarti dia kena otitis eksterna, Pak Ustadz.”  Semua tertawa.  Termasuk Ustadz Miqdam.  Tapi dia balik: “Kamu mau bantah dalil dengan canda?”  Aab santai: “Nggak, Pak. Saya mau bantah kebingungan dengan fakta.  Boleh saya tanya:  Kalau setan itu nyata, kenapa nggak pernah muncul di rekaman MRI? K...