Langsung ke konten utama

Ibu

Mawar Kehidupan dari Ibu: "Sebelum Lidahmu Bersuara, Tampilanmu Sudah Bicara"

Di antara belasan tahun perjalanan melangkah dari satu panggung ke panggung lainnya, ada satu nasihat berharga yang tak pernah redup dan selalu bergema di pikiran saya. Sebuah pesan sederhana yang diwariskan oleh sosok yang sangat saya hormati dalam hidup: **Ibu**.

Beliau pernah memegang pundak saya, menatap mata saya dengan lembut, lalu berpesan:

"Nak... ingat baik-baik. Sebelum lidah dan mulutmu mulai ngomong di depan orang banyak, badanmu dan penampilanmu itu sudah berbicara lebih dulu. Maka, jaga badan dan penampilanmu itu sebagai hal yang paling utama sebelum kamu membuka suara."**

Betapa dalamnya pesan itu!

Pesan tersebut menancap kuat dalam benak saya. Dalam keilmuan komunikasi modern, apa yang disampaikan Ibu saya puluhan tahun lalu adalah hukum kebenaran mutlak: Audiens menilai kredibilitas dan integritas kita dalam 3 hingga 7 detik pertama, bahkan sebelum kita mengucapkan kata "Selamat Pagi".

Saat seseorang tampil dengan pakaian yang kusam, tubuh yang lunglai, atau penampilan yang asal-asalan, ia sedang menyampaikan pesan terselubung ke otak audiens: "Saya tidak menghargai kalian, dan saya tidak menghargai acara ini."

Sehebat apa pun materi yang disiapkan, jika kemasannya tidak dirawat, orang tidak akan tertarik untuk mencicipi isinya.

Salam dari Balik Panggung
Never Stop Growing! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QUESTIO - BAB 2

Bab 2: Jiwa yang Mencari “Semua manusia dilahirkan untuk bertanya. Yang membedakan bukan siapa yang tahu lebih banyak, tapi siapa yang berani terus mencari.” — Questio Pintu Pertama Kesadaran Quaestio I: Mengapa Kita Bertanya? Mengapa manusia selalu ingin tahu? Apakah Tuhan itu ada? Jika ya, bagaimana kita bisa membuktikannya? Apa peran agama dalam kehidupan manusia? Apa yang lebih penting: pengetahuan atau kebijaksanaan? Apakah ilmu pengetahuan mampu menjawab semua pertanyaan tentang alam semesta? Bagaimana kita bisa membedakan antara fakta dan opini? Apakah kebenaran itu bersifat absolut atau relatif? Apakah kita benar-benar bebas dalam menentukan pilihan hidup kita? Refleksi: Rasa ingin tahu adalah percikan ilahi yang ditiupkan ke dalam jiwa manusia. Ia seperti api kecil yang tidak akan padam, bahkan di tengah badai. Ia yang bertanya, belum tentu tahu. Tapi ia yang berhenti bertanya, pasti berhenti bertumbuh. Kesadaran Kolektif dan Dunia Dalam Quaestio II: Siapakah Kita...

QUESTIO - BAB 1

  BAB 1 – AWAL SEMUA DIMULAI “Karena setiap kedekatan dimulai dari satu pertanyaan kecil yang tulus.” Quaestio Prima "Semua orang bodoh bisa memberi jawaban. Tapi hanya orang bijak yang tahu bagaimana bertanya." — James Thurber Dulu, saat kecil, kamu mungkin pernah bertanya, “Kenapa langit warnanya biru?” Dan entah kenapa, saat dewasa, kamu berhenti bertanya. Buku ini ingin mengembalikan rasa ingin tahu itu. Bukan untuk dapat jawaban, tapi untuk membuka pintu obrolan yang selama ini tertutup rapat. Salam dari MARMUT, Mas fajAR iMUT. Quaestio: Kalau kamu bisa nanya apa saja ke siapa pun, hidup atau sudah tiada, kamu akan bertanya apa… dan kepada siapa? Pertanyaan apa yang paling sering kamu simpan, tapi sebenarnya ingin kamu tanyakan? Kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar didengar? Pertanyaan Bisa Jadi Pelukan Pertanyaan itu seperti pelukan: kadang nggak perlu jawaban. Yang penting kita tahu, kita nggak sendirian. Quaestio: Kalau ada seseo...

Kesurupan Setan?

 CERITA: Obrolan di Warung Kopi yang Bikin Ustadz Nyerah Di sebuah warung kopi dekat kampus,  ada obrolan panas antara tiga orang:  - Aab, mahasiswa psikologi  - Ustadz Miqdam, dai muda yang aktif di kajian  - Pak Juki, tukang ojek yang suka baca Al-Qur’an sambil nunggu penumpang  Topiknya:  "Setan dan kesurupan itu nyata nggak sih?" Ustadz Miqdam langsung angkat suara: “Jelas nyata! Setan itu makhluk halus, diciptakan dari api, suka goda manusia, masuk ke tubuh lewat telinga, dan bikin orang kesurupan, teriak-teriak, sampai harus dipanggilkan guru spiritual!” Aab nyeruput kopi, lalu senyum: “Kalau setan bisa masuk lewat telinga… berarti dia kena otitis eksterna, Pak Ustadz.”  Semua tertawa.  Termasuk Ustadz Miqdam.  Tapi dia balik: “Kamu mau bantah dalil dengan canda?”  Aab santai: “Nggak, Pak. Saya mau bantah kebingungan dengan fakta.  Boleh saya tanya:  Kalau setan itu nyata, kenapa nggak pernah muncul di rekaman MRI? K...